Pengarang : Rhein Fathia
Penyunting
: Noni Rosliyani
Perancang
Sampul : Joko Supomo
Pemeriksa
Aksara : Kamus Tamar &
Pritameani
Penata
Aksara : BASBAK_Binangkit
Ilustrasi
Sampul : Shutterstock
Penerbit
: PT Bentang Pustaka
Tebal
: 388 hlm.
Rilis
: 2013 (Cet.
ke-1)
ISBN : 978-602-7888-12-8
Sometimes,
people get married not because they’re in love.
They’re
couple, who only have some future dreams and decide to get happy life.
~CoupL(ov)E~
Dulu, saat saya masih duduk di bangku
SMA, saya berpikiran bahwa dua insan yang menikah itu didasari oleh rasa cinta.
Mereka dapat menyatu karena adanya rasa cinta yang tertanam dalam diri mereka.
Namun, setelah saya lulus kuliah dan bekerja, ternyata pemikiran saya tentang
hal tersebut lambat laun tertepis. Mengapa? Karena ternyata tidak sedikit
teman-teman saya yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan jalur ta’aruf. Sempat saya berpikir apa
jadinya dua insan yang menikah tanpa adanya rasa cinta. Pasti ada rasa canggung
yang luar biasa dan itu akan mengakibatkan komunikasi yang tidak lancar antara
keduanya. Tidak menyenangkan sekali rasanya berada dalam mahligai rumah tangga
yang seperti itu.
Pikiran saya pun melayang pada kisah ibu
saya yang tiba-tiba dilamar oleh ayah saya. Saat itu ibu saya sama sekali tidak
menyimpan rasa cinta kepada ayah saya, apalagi menjalin cinta atau pacaran.
Tetapi, anehnya ibu saya menerima lamaran ayah saya. Entah, atas dasar
apa. Mahligai rumah tangga mereka
harmonis, melahirkan keturunan yang lucu-lucu, termasuk saya. Hehe :D Dan bukan
hanya itu usia pernikahan mereka pun langgeng sampai maut memisahkan. Ternyata
belum tentu, pernikahan yang awalnya tidak ada rasa cinta akan berakhir dengan
perceraian. Dan belum tentu juga, pernikahan yang didasari atas rasa cinta akan
langgeng sampai akhir hayat. Ya, mungkin ini adalah salah satu contoh keajaiban
jodoh. Tidak bisa ditebak. Seperti halnya kisah Halya dan Raka dalam novel
CoupL(ov)E karya Rhein Fathia. Pernikahan yang tidak pernah disangka oleh
mereka.
Halya dan Raka adalah sepasang sahabat.
Mereka bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Halya memiliki pribadi yang riang
dan supel, sedangkan Raka memiliki pribadi yang serius, tegas, dan logis.
Sangat bertolak belakang, namun karena sebuah mimpi, visi dan misi hidup yang
sama, mereka bisa bersahabat hingga 15 tahun. Waktu yang sangat lama. Namun,
keduanya yakin, jika semuanya dilalui bersama-sama maka akan baik-baik saja.
Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah dengan didasari alasan
tersebut.
Biasanya, saya membaca cerita tentang
persahabatan antara laki-laki dan wanita yang salah satu atau keduanya
menyimpan rasa cinta pada sahabanya. Namun, dalam novel CopL(ov)E saya menemukan cerita yang sangat berbeda,
begitu fresh. Dalam persahabatan
Halya dan Raka sama sekali tidak ada rasa cinta, walaupun memang ada rasa
sayang antarsabahat. Rhein berhasil mengangkat tema ini begitu apik. Saya,
sebagai pembaca, ikut hanyut dalam cerita Rhein. Saking ikut hanyut dalam
cerita Rhein ini, saya pun ikut merasakan hal-hal yang dialami Halya, mulai
dari rasa bahagia Halya saat dilamar oleh Gilang di pantai dengan suasana
romantisnya; rasa bingung Halya ketika dilamar oleh sahabatnya sendiri (Raka),
bingung bagaimana kehidupannya nanti setelah menikah dengan Raka; dan rasa
sedih Halya ketika tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Raka dan tidak
bisa melarang suaminya sendiri pergi bersama wanita lain.
Konflik yang dibangun oleh Rhein begitu
berhasil membuat hati saya berkecamuk. Benar-benar gila konflik novel ini,
Rhein dapat membangun konflik sebab-akibat. Halya yang pernah berpacaran dengan
Gilang, laki-laki romantis dan penuh kejutan, mengakibatkan dirinya tidak bisa
melupakan mantan kekasihnya sekalipun ia telah menikah dengan Raka. Hal ini pun
yang juga membuat Halya tidak bisa mencegah bahkan melarang suaminya bertemu
dengan cinta lamanya, Rina. Sangat menyakitkan.
Untuk hal penokohan, Rhein begitu matang
menciptakan tokoh-tokohnya. Mengapa? Karena, ia memilikirkan segala sesuatu
yang menyangkut dengan tokoh-tokohnya yang berjalan 15 tahun. Plot yang panjang
tentu mengubah karakter penokohannya. Dan perubahan karakter tokoh-tokohnya
dibuat begitu natural dan mengalir apa adanya. Halya yang supel, namun setelah
diselingkuhi, dia jadi menjaga jarak dengan pria. Dan saat dirinya telah masuk
dunia kerja, ia pun kembali membuka diri dengan pria, hingga ia bertemu dengan
Gilang.
Plot yang panjang ini, mengingatkan saya
pada novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari. Dan, entah mengapa menurut saya
CoupL(ov)E seperti ada persamaan dengan Perahu Kertas. Persamaannya terdapat
pada tema persahabatan dan impian. Walaupun memang ada perbedaan di dalamnya,
Kugy dan Keenan dalam PK yang bersahabat, namun keduanya memiliki rasa cinta
yang terpendam. Sedangkan, Halya dan Raka dalam CoupL(ov)E juga bersahabat,
namun persahabatan mereka murni, tidak ada rasa cinta di dalamnya. Apakah
mungkin Rhein membuat novel ini karena terinspirasi dengan Perahu Kertas karya
Dewi Lestari? Bisa iya, bisa juga tidak.
Akhirnya, saya merekomendasikan novel keren dan
ciamik ini untuk kalian baca :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar