Rabu, 12 Juni 2013

DIARY MANIS DARI PARIS




Penulis: Prisca Primasari
Editor: eNHa
Proofreader: Gita Romadona, Ibnu Rizal
Penata Letak: Dian Novitasari
Desain Sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi Isi: Diani Apsari
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-577-8

Pernah nggak sih kamu berkhayal akan bertemu dengan jodoh kamu di tempat yang menyeramkan dan di waktu yang tidak wajar. Pastinya nggak lah ya, karena lebih baik membayangkan bertemu jodoh di tempat yang indah dan waktu yang tepat. Hihi :p Tapi, kalau itu tiba-tiba terjadi padamu bagaimana? Pertemuan yang konyol, sama halnya dengan pertemuan Aline dan Sena dalam novel Paris karya Prisca Primasari.


Pertemuan yang tidak pernah disangka oleh Aline. Pertemuan aneh baginya. Bagaimana tidak aneh? Sena mengajak Aline bertemu di Place de la Bastille pukul 12 malam. Tidak wajar memang, tapi Aline tetap menemui Sena untuk mengantarkan porselen yang harganya ditaksir sangat mahal itu. Pertemuan mereka ternyata tidak hanya sekali, karena setelah pertemuan itu Aline mendapatkan tawaran tiga permintaan yang diberikan oleh Sena lantaran Sena yang tidak datang pada hari pertama dan kedua yang telah dijanjikan. Dari sini petualangan pun dimulai. 

Tadinya, saya berpikir bahwa novel Paris ini ceritanya akan sama saja dengan novel-novel yang berlatar Paris, yaitu menceritakan dua sejoli yang memadu kasih di bawah menara Eiffel, membosankan karena cerita seperti itu sudah pasaran dan mudah sekali ditebak. Namun, ternyata saya salah, novel ini benar-benar keren, jauh dari ekspektasi saya. Sempat terheran-heran sama penulisnya, idenya luar biasa gila. 

Prisca membuat nuansa Paris begitu berbeda, Paris yang identik dengan kota paling romantis dan indah dibuat menjadi kota yang penuh dengan teka-teki. Sangat menarik, saya seperti diajak berpetualang memecahkan teka-teki tersebut. Prisca seperti membuka mata saya, oh bukan hanya saya tapi pembaca yang lain juga, bahwa Paris  tidak semenyenangkan yang dikira orang-orang. Ada tipe-tipe orang yang lebih baik dikenal dan ada sudut-sudut tertentu yang lebih baik tidak dimasuki. Ternyata selama ini, orang-orang terlalu berlebihan medeskripsikan Paris. Entahlah. 



Saya suka dengan konflik yang dibangun oleh Prisca. Konflik yang dibuat olehnya seperti bertahap, mula-mula konfliknya low, medium, hingga akhirnya menjadi strength saat muncul pasangan Poussin yang memiliki gangguan kejiwaan menahan Aline, yang bersikukuh ingin bertemu Sena. Saat baca bagian tersebut, saya merasa ketegangan, ketakutan bahkan saya merasa lelah, seolah-olah saya yang bertengkar dengan pasangan Poussin. Ya, tiba-tiba saja saya kerasukan Aline. Efek yang luar biasa. 

Penokohan Aline, Sena, dan Ezra pun unik. Aline yang memiliki sifat tidak percaya diri dengan skill menggambar yang dia punya, suka berjibaku dengan hal-hal yang tidak penting, dan melankolis tidak pada tempatnya. Saya tahu, membuat karakter yang seperti itu tidak mudah, tapi lagi-lagi Prisca membuatnya seperti air yang mengalir dengan tenang. Semuanya terasa mengalir dan lancar. Penokohan yang paling saya suka, adalah Sena. Laki-laki yang lehernya penuh dengan syal dengan gaya berbicara yang berlebihan, dan gaya berbicara seperti itu tidak mengurangi ketampanannya, malah terlihat keren. Buat saya, Sena itu sangat khas, karena setiap kali melihat sesuatu yang nggak biasa atau mamakan makanan yang enak, kata-kata très bien, merveilleux! langsung keluar dari mulutnya. Berbeda dengan Sena, Ezra memiliki karakter pendiam, baik, dan diam-diam memerhatikan Aline. Sweet.

Dan yang paling saya suka sama novel ini adalah, kemasannya. Kemasannya unik banget, mulai dari covernya yang bertuliskan PARIS, jika kita melihat dari jauh novel ini, tulisan PARIS tersebut seperti menonjol keluar atau timbul. Yang bikin keren lagi, konsep kemasannya. Jadi, seolah-olah novel ini dibuat seperti diary kisah Aline dan Sena yang dikirim Aline untuk Sévigne (sahabat Aline) yang sedang ingin menulis vinyet. Oia, novel ini pun penuh dengan gambar-gambar lucu nan indah. Pas saya membuka novel ini, menara Eiffel langsung menyapa saya dengan hangat. Nice. Dan tentu langsung saya foto. Hehe :D Awesome.

Kalau bicara tentang kekurangan dari novel ini, menurut saya kekurangan novel ini hanya terdapat pada typo yang masih berkeliaran di mana-mana dan penggalan kata yang tidak sesuai. Namun, hal tersebhut tidak terlalu banyak dan tidak mengurangi kekerenan novel ini. Ciyusss deh. :D

Overall, novel ini bagus, saya memberikan nilai 5  dari 5 bintang. Dan buat kamu yang belum baca novel ini, buruan baca. Recommended banget deh. (Nura Zie)



Minggu, 02 Juni 2013

SAHABAT JADI CINTA




Judul                           : CoupL(ov)E
Pengarang                   : Rhein Fathia
Penyunting                  : Noni Rosliyani
Perancang Sampul       : Joko Supomo
Pemeriksa Aksara        : Kamus Tamar & Pritameani
Penata Aksara             : BASBAK_Binangkit
Ilustrasi Sampul          : Shutterstock
Penerbit                       : PT Bentang Pustaka
Tebal                           : 388 hlm.
Rilis                             : 2013 (Cet. ke-1)
ISBN                           : 978-602-7888-12-8


Sometimes, people get married not because they’re in love.
They’re couple, who only have some future dreams and decide to get happy life.
~CoupL(ov)E~

Dulu, saat saya masih duduk di bangku SMA, saya berpikiran bahwa dua insan yang menikah itu didasari oleh rasa cinta. Mereka dapat menyatu karena adanya rasa cinta yang tertanam dalam diri mereka. Namun, setelah saya lulus kuliah dan bekerja, ternyata pemikiran saya tentang hal tersebut lambat laun tertepis. Mengapa? Karena ternyata tidak sedikit teman-teman saya yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan jalur ta’aruf. Sempat saya berpikir apa jadinya dua insan yang menikah tanpa adanya rasa cinta. Pasti ada rasa canggung yang luar biasa dan itu akan mengakibatkan komunikasi yang tidak lancar antara keduanya. Tidak menyenangkan sekali rasanya berada dalam mahligai rumah tangga yang seperti itu.

Pikiran saya pun melayang pada kisah ibu saya yang tiba-tiba dilamar oleh ayah saya. Saat itu ibu saya sama sekali tidak menyimpan rasa cinta kepada ayah saya, apalagi menjalin cinta atau pacaran. Tetapi, anehnya ibu saya menerima lamaran ayah saya. Entah, atas dasar apa.  Mahligai rumah tangga mereka harmonis, melahirkan keturunan yang lucu-lucu, termasuk saya. Hehe :D Dan bukan hanya itu usia pernikahan mereka pun langgeng sampai maut memisahkan. Ternyata belum tentu, pernikahan yang awalnya tidak ada rasa cinta akan berakhir dengan perceraian. Dan belum tentu juga, pernikahan yang didasari atas rasa cinta akan langgeng sampai akhir hayat. Ya, mungkin ini adalah salah satu contoh keajaiban jodoh. Tidak bisa ditebak. Seperti halnya kisah Halya dan Raka dalam novel CoupL(ov)E karya Rhein Fathia. Pernikahan yang tidak pernah disangka oleh mereka.

Halya dan Raka adalah sepasang sahabat. Mereka bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Halya memiliki pribadi yang riang dan supel, sedangkan Raka memiliki pribadi yang serius, tegas, dan logis. Sangat bertolak belakang, namun karena sebuah mimpi, visi dan misi hidup yang sama, mereka bisa bersahabat hingga 15 tahun. Waktu yang sangat lama. Namun, keduanya yakin, jika semuanya dilalui bersama-sama maka akan baik-baik saja. Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah dengan didasari alasan tersebut.

Biasanya, saya membaca cerita tentang persahabatan antara laki-laki dan wanita yang salah satu atau keduanya menyimpan rasa cinta pada sahabanya. Namun, dalam novel CopL(ov)E  saya menemukan cerita yang sangat berbeda, begitu fresh. Dalam persahabatan Halya dan Raka sama sekali tidak ada rasa cinta, walaupun memang ada rasa sayang antarsabahat. Rhein berhasil mengangkat tema ini begitu apik. Saya, sebagai pembaca, ikut hanyut dalam cerita Rhein. Saking ikut hanyut dalam cerita Rhein ini, saya pun ikut merasakan hal-hal yang dialami Halya, mulai dari rasa bahagia Halya saat dilamar oleh Gilang di pantai dengan suasana romantisnya; rasa bingung Halya ketika dilamar oleh sahabatnya sendiri (Raka), bingung bagaimana kehidupannya nanti setelah menikah dengan Raka; dan rasa sedih Halya ketika tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Raka dan tidak bisa melarang suaminya sendiri pergi bersama wanita lain.

Konflik yang dibangun oleh Rhein begitu berhasil membuat hati saya berkecamuk. Benar-benar gila konflik novel ini, Rhein dapat membangun konflik sebab-akibat. Halya yang pernah berpacaran dengan Gilang, laki-laki romantis dan penuh kejutan, mengakibatkan dirinya tidak bisa melupakan mantan kekasihnya sekalipun ia telah menikah dengan Raka. Hal ini pun yang juga membuat Halya tidak bisa mencegah bahkan melarang suaminya bertemu dengan cinta lamanya, Rina. Sangat menyakitkan.
 
Untuk hal penokohan, Rhein begitu matang menciptakan tokoh-tokohnya. Mengapa? Karena, ia memilikirkan segala sesuatu yang menyangkut dengan tokoh-tokohnya yang berjalan 15 tahun. Plot yang panjang tentu mengubah karakter penokohannya. Dan perubahan karakter tokoh-tokohnya dibuat begitu natural dan mengalir apa adanya. Halya yang supel, namun setelah diselingkuhi, dia jadi menjaga jarak dengan pria. Dan saat dirinya telah masuk dunia kerja, ia pun kembali membuka diri dengan pria, hingga ia bertemu dengan Gilang.

Plot yang panjang ini, mengingatkan saya pada novel Perahu Kertas karya Dewi Lestari. Dan, entah mengapa menurut saya CoupL(ov)E seperti ada persamaan dengan Perahu Kertas. Persamaannya terdapat pada tema persahabatan dan impian. Walaupun memang ada perbedaan di dalamnya, Kugy dan Keenan dalam PK yang bersahabat, namun keduanya memiliki rasa cinta yang terpendam. Sedangkan, Halya dan Raka dalam CoupL(ov)E juga bersahabat, namun persahabatan mereka murni, tidak ada rasa cinta di dalamnya. Apakah mungkin Rhein membuat novel ini karena terinspirasi dengan Perahu Kertas karya Dewi Lestari? Bisa  iya, bisa juga tidak.

Akhirnya, saya merekomendasikan novel keren dan ciamik ini untuk kalian baca :)