Penulis:
Prisca Primasari
Editor:
eNHa
Proofreader:
Gita Romadona, Ibnu Rizal
Penata
Letak: Dian Novitasari
Desain
Sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi
Isi: Diani Apsari
Penerbit:
GagasMedia
ISBN:
979-780-577-8
Pertemuan yang tidak
pernah disangka oleh Aline. Pertemuan aneh baginya. Bagaimana tidak aneh? Sena
mengajak Aline bertemu di Place de la Bastille pukul 12 malam. Tidak wajar
memang, tapi Aline tetap menemui Sena untuk mengantarkan porselen yang harganya
ditaksir sangat mahal itu. Pertemuan mereka ternyata tidak hanya sekali, karena
setelah pertemuan itu Aline mendapatkan tawaran tiga permintaan yang diberikan
oleh Sena lantaran Sena yang tidak datang pada hari pertama dan kedua yang
telah dijanjikan. Dari sini petualangan pun dimulai.
Tadinya, saya berpikir
bahwa novel Paris ini ceritanya akan
sama saja dengan novel-novel yang berlatar Paris, yaitu menceritakan dua sejoli
yang memadu kasih di bawah menara Eiffel, membosankan karena cerita seperti itu
sudah pasaran dan mudah sekali ditebak. Namun, ternyata saya salah, novel ini
benar-benar keren, jauh dari ekspektasi saya. Sempat terheran-heran sama
penulisnya, idenya luar biasa gila.
Prisca membuat nuansa Paris
begitu berbeda, Paris yang identik dengan kota paling romantis dan indah dibuat
menjadi kota yang penuh dengan teka-teki. Sangat menarik, saya seperti diajak
berpetualang memecahkan teka-teki tersebut. Prisca seperti membuka mata saya, oh bukan hanya saya tapi pembaca yang
lain juga, bahwa Paris tidak
semenyenangkan yang dikira orang-orang. Ada tipe-tipe orang yang lebih baik
dikenal dan ada sudut-sudut tertentu yang lebih baik tidak dimasuki. Ternyata selama
ini, orang-orang terlalu berlebihan medeskripsikan Paris. Entahlah.
Saya suka dengan
konflik yang dibangun oleh Prisca. Konflik yang dibuat olehnya seperti
bertahap, mula-mula konfliknya low, medium, hingga akhirnya menjadi strength saat muncul pasangan Poussin yang
memiliki gangguan kejiwaan menahan Aline, yang bersikukuh ingin bertemu Sena. Saat
baca bagian tersebut, saya merasa ketegangan, ketakutan bahkan saya merasa lelah,
seolah-olah saya yang bertengkar dengan pasangan Poussin. Ya, tiba-tiba saja
saya kerasukan Aline. Efek yang luar biasa.
Penokohan Aline, Sena,
dan Ezra pun unik. Aline yang memiliki sifat tidak percaya diri dengan skill menggambar yang dia punya, suka
berjibaku dengan hal-hal yang tidak penting, dan melankolis tidak pada
tempatnya. Saya tahu, membuat karakter yang seperti itu tidak mudah, tapi
lagi-lagi Prisca membuatnya seperti air yang mengalir dengan tenang. Semuanya terasa
mengalir dan lancar. Penokohan yang paling saya suka, adalah Sena. Laki-laki
yang lehernya penuh dengan syal dengan gaya berbicara yang berlebihan, dan gaya
berbicara seperti itu tidak mengurangi ketampanannya, malah terlihat keren. Buat
saya, Sena itu sangat khas, karena setiap kali melihat sesuatu yang nggak biasa atau mamakan makanan yang enak, kata-kata très bien, merveilleux! langsung keluar dari mulutnya. Berbeda dengan
Sena, Ezra memiliki karakter pendiam, baik, dan diam-diam memerhatikan Aline. Sweet.
Dan yang paling saya suka
sama novel ini adalah, kemasannya. Kemasannya unik banget, mulai dari covernya yang
bertuliskan PARIS, jika kita melihat dari jauh novel ini, tulisan PARIS
tersebut seperti menonjol keluar atau timbul. Yang bikin keren lagi, konsep kemasannya.
Jadi, seolah-olah novel ini dibuat seperti diary
kisah Aline dan Sena yang dikirim Aline untuk Sévigne (sahabat Aline) yang
sedang ingin menulis vinyet. Oia, novel ini pun penuh dengan gambar-gambar lucu
nan indah. Pas saya membuka novel ini, menara Eiffel langsung menyapa saya
dengan hangat. Nice. Dan tentu
langsung saya foto. Hehe :D Awesome.
Kalau bicara tentang
kekurangan dari novel ini, menurut saya kekurangan novel ini hanya terdapat
pada typo yang masih berkeliaran di
mana-mana dan penggalan kata yang tidak sesuai. Namun, hal tersebhut tidak
terlalu banyak dan tidak mengurangi kekerenan novel ini. Ciyusss deh. :D
Overall, novel ini
bagus, saya memberikan nilai 5 dari 5
bintang. Dan buat kamu yang belum baca novel ini, buruan baca. Recommended banget
deh. (Nura Zie)


