Penulis: Irfan Ihsan
Judul: Cinta Kamu, Aku
Tebal: 320 halaman.
Apa sih hal yang tidak mungkin di dunia
ini? Semuanya mungkin saja bisa terjadi di dunia ini bukan? Seorang yang miskin
tiba-tiba mendadak kaya karena menemukan uang 1 miliar di jalan, seorang gadis
yang biasa-biasa saja tiba-tiba jadi trending
topic gegara video YouTube-nya. Nah, juga seperti kisah Aan yang hanya
seorang penyiar radio tiba-tiba jadi pacarnya Risha, penyanyi cantik bersuara
merdu, aduhai, dan pastinya ciamik.
Pertemuan yang tak pernah disangka oleh
Aan. Aan bertemu Risha di studio radio Flash FM tempat Aan bekerja. Aan yang sedang
siaran malam minggu dengan program andalan siarannya, Pengin Request, sontak kaget bercampur senang
karena kedatangan Risha yang ditemani Mbak Silvy. Risha datang ke studio Flash
FM untuk memenuhi interview on air yang
sudah dijadwalkan oleh manajernya. Namun, di order siaran Aan tidak ada jadwal
wawancaranya dengan Risha. Tidak ingin melewatkan kesempatan mewawancara Risha
dan memandangnya lebih lama, Aan pun langsung berinisiatif untuk tetap mengadakan
wawancara dengan Risha. Bukan main senangnya hati Aan saat itu, rejeki emang ngga ke mana ya.
Tampaknya pertemuan Aan dengan Risha
tidak sampai di situ saja. Pertemuannya berlanjut saat malam perhelatan Cipta
Indonesia Music Awards. Saat itu Risha tengah dikerubungi oleh para wartawan
yang sedang melontarkan berbagai pertanyaan bak bunga yang tengah dikerubungi
oleh kumbang-kumbang. Aan pun langsung menghampirinya. Saat Risha sedang
menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan wartawan, tiba-tiba Risha mencium
Aan. Lagi-lagi rejeki buat Aan.
Entah mimpi apa semalam, Aan tiba-tiba
dicium oleh Risha saat perhelatan musik itu. Berbeda dengan Aan yang senang
dengan kejadian malam itu, Risha malah uring-uringan
memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mengklarifikasi hal tersebut pada
Aan dan juga media. Pasalnya, ia mencium Aan bukan karena ia suka dengan Aan,
namun karena sudah terlanjur cemburu dan kesal dengan jawaban Yudha di depan
wartawan perihal rumah tangganya dengan Ratih yang dijawab dengan ciuman
mesranya.
Ada begitu banyak konflik dalam novel
ini, konflik Risha yang harus merasakan kepedihan broken home sejak kecil sehingga ia tidak pernah merasakan cinta
dan kasih sayang dari orang tuanya secara utuh. Bukan hanya itu, Risha gadis
cantik yang harusnya dapat cinta lebih
dari seorang laki-laki single, namun
ia hanya merasakan cinta yang terbelah dua. Ia menjadi selingkuhan Yudha, sang
komposer. Konflik yang dibuat Irfan Ihsan bukan hanya tentang hati, ia juga
membuat konflik yang sering dirasakan oleh publik figur, yaitu bagaimana
seorang publik figur menjadi sorotan atas berita-berita yang terkait dengan
dirinya. Dan bagaimana publik figur harus berani bertanggung jawab atas apa
yang dilakukannya. Seolah-olah Irfan Ihsan ingin memberitahukan kepada pembaca
bahwa menjadi publik figur itu tidak sepenuhnya enak. Seorang publik figur
harus mampu berkata bijak dalam situasi yang genting sekalipun, karena setiap
perkataannya akan menjadi sorotan.
Selain konflik-konflik yang fresh, yang membuat novel ini menjadi
semakin menarik, Irfan Ihsan juga menyisipkan unsur budaya di dalamnya. Karakter
Phatur yang kental dengan logat Betawi-nya; dan karakter Aki dan Ninik Aan yang
kental dengan logat Sundanya, membuat cerita ini lebih dekat dengan para
pembacanya di Nusantara. Tampaknya, Irfan Ihsan ingin melestarikan kebudayaan
Betawi yang ia sisipkan dalam novel ini.
Novel ini memang bercerita tentang
cinta, namun sepertinya Irfan Ihsan tidak pernah lupa akan agama. Unsur
religinya yang kental ternyata dapat mengimbangi cerita cinta ini. Sebut saja,
saat Aki menasihati Aan dengan kata-kata bijaknya.
“Yang penting
sekarang kamu jangan jinah lagi, ya. Tong hilap deui─jangan khilaf lagi. Ayo,
turun sekarang! Shalat dulu, sekalian tobat”, kata Aki. (hlm. 114)
Irfan menggunakan bahasa yang ringan dalam
novel ini sehingga membuat pembaca tidak berpikir sulit saat membacanya. Ia menggunakan
bahasa yang biasa dipakai dalam scene
cerita drama radio. Belum sampai habis saya membacanya, ending-nya seperti sudah tertebak dalam benak saya. Mungkin karena
ceritanya yang mengalir begitu saja. Namun, walaupun demikian cerita ini tidak
membosankan, karena Irfan menyisipkan dengan komedi-komedi yang fresh dan ilustrasi tentang radio pada
setiap judulnya sehingga membuat
pembaca bersemangat membacanya.
Dari awal membeli novel ini, saya ingin
tahu bagaimana cara penulis mendeskripsikan segala hal yang berhubungan dengan
radio. Dan ternyata saya patut mengacungkan jempol pada Irfan Ihsan ini, dia
berhasil mendeskripsikannya mulai dari mendeskripsikan radio siaran, suasana di
studio siaran, dan mendeskripsikan seorang penyiar yang dikenal dengan suara
empuk dan hangat dengan pendengarnya. Kalau kata Vena Anisa (International Broadcaster, Washington
DC), “Asli, rahasia penyiar dibongkar abis!”. Rasanya dunia radio untuk seorang
Irfan Ihsan sudah ngelotok dalam
dirinya. Bagaimana tidak ngelotok, kiprahnya
di dunia radio dimulai pada tahun 1993 di radio Prambors. Jam terbang yang
sudah tidak diragukan lagi tentunya.
Bagi Anda yang suka dengerin radio, tidak ada salahnya untuk membaca novel Cinta Kamu, Aku sebagai teman Anda dalam mendengarkan radio.(Nura Zie)
