Sabtu, 13 April 2013

Analisis Cerpen “Mugiyono” Karya Gunawan Maryanto


Dunia terus berputar. Kehidupan akan terus berjalan. Manusia akan terus mengalami perubahan dalam kehidupannya. Entah itu usia, berat badan, tinggi badan, dan juga tingkah laku. Manusia yang terlahir sebagai bayi mungil, lalu tumbuh menjadi seorang anak kecil, dan tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Dengan pertumbuhan dan pertambahan usia inilah, manusia menjadi dewasa dan berfikir tentang orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Seperti juga dalam hal pergaulan. Tentu orang yang usianya remaja akan berteman dengan orang yang usianya sama dengannya. Dan juga orang yang usianya masih anak-anak akan berteman dengan anak-anak pula.
            Tetapi dalam cerita pendek yang diterbitkan Kompas, Mingggu (18 Oktober 2009) ini saya melihat suatu karakter tokoh yang berbeda dari orang-orang yang sewajarnya. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk menganalisis cerpen karya Gunawan Maryanto ini. Cerpen yang mudah dimengerti dan ringan untuk dibaca.
            Gunawan Maryanto mengambil tokoh utama dari cerpen ini adalah Mugiyono, yang akrab dipanggil Enek. Sungguh unik nama tokoh yang diberikan Gunawan ini. Tidak hanya namanya yang unik, watak dari tokoh Enek pun juga demikian. “Badannya yang besar, selebar dan setinggi daun pintu. Tapi wajahnya seperi anak-anak. Juga kelakuannya”. Begitulah yang digambarkan pengarang. Usia Enek tiga kali dari usia Si Aku dalam cerpen ini. Walaupun usianya tiga kali usia Si Aku, ia tetap bermain bersama Si Aku dan teman-teman Si Aku. Bahkan ia juga bergabung dalam kelompok teater yang didirikan Si Aku dan teman-temannya. Karena tinggi dan besar tubuhnyalah, ia hanya berperan sebagai raksasa atau perampok yang dungu. Dan gampang dikalahkan.
           
            Tidak hanya tokoh Enek yang ditampilkan dalam cerpen ini, tetapi Si Aku dan teman-temannya juga. Si Aku senang memiliki teman seperti Enek, karena Enek selalu membantunya. Menurutnya Enek adalah dewa penolong yang selalu membantunya. Ketika Si Aku sudah memasuki SMP, ia sering bercerita tentang aktivitasnya, seperti bermain drama di TVRI atau bermain ketoprak bersama pelawak-pelawak idolanya. Selama Si Aku bercerita, Enek tidak berkomentar sedikitpun tentang aktivitas temannya itu. Ia tetap mendengarkan dengan setia, sampai akhirnya Si Aku kesal dengannya. Ia dan teman-temannya pun berniat mengerjainya. Enek dikerjai oleh teman-temannya mulai dari adanya surat panggilan palsu dari TVRI yang di buat Si Aku sampai membujuk Enek untuk masuk dalam akademi seni yang cukup nyentrik. Dan inilah onflik yang dibangun pengarang dalam cerpen ini. Konflik yang didalamnya terdapat unsur humor yang membuat cerpen ini menjadi lebih hidup.
            Jika dilihat dari segi psikologis, mungkin tokoh Enek menyukai anak-anak kecil. Oleh karena itu ia selalu bermain dengan anak kecil. Bahkan pada saat Si Aku sudah besar dan meninggalkannya atau lebih tepatnya tidak bermain lagi bersamanya. Enek tetap bermain dengan anak-anak kecil yang baru tumbuh dan salah satu anak kecil tersebut terdapat adik Si Aku. Atau juga terdapat kemungkinan bahwa Enek labih nyaman bermain dengan anak-anak kecil daripada dengan anak-anak seusianya. Enek bukanlah orang yang dungu dan mau disuruh-suruh oleh teman-teman yang usianya di bawah ia. Ia adalah orang yang baik dan setia pada teman-temannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar