Dunia terus berputar.
Kehidupan akan terus berjalan. Manusia akan terus mengalami perubahan dalam
kehidupannya. Entah itu usia, berat badan, tinggi badan, dan juga tingkah laku.
Manusia yang terlahir sebagai bayi mungil, lalu tumbuh menjadi seorang anak
kecil, dan tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Dengan pertumbuhan dan
pertambahan usia inilah, manusia menjadi dewasa dan berfikir tentang
orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Seperti juga dalam hal pergaulan.
Tentu orang yang usianya remaja akan berteman dengan orang yang usianya sama
dengannya. Dan juga orang yang usianya masih anak-anak akan berteman dengan
anak-anak pula.
Tetapi dalam cerita pendek yang diterbitkan Kompas,
Mingggu (18 Oktober 2009) ini saya melihat suatu karakter tokoh yang berbeda
dari orang-orang yang sewajarnya. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk
menganalisis cerpen karya Gunawan Maryanto ini. Cerpen yang mudah dimengerti
dan ringan untuk dibaca.
Gunawan Maryanto mengambil tokoh utama dari cerpen ini
adalah Mugiyono, yang akrab dipanggil Enek. Sungguh unik nama tokoh yang
diberikan Gunawan ini. Tidak hanya namanya yang unik, watak dari tokoh Enek pun
juga demikian. “Badannya yang besar, selebar dan setinggi daun pintu. Tapi
wajahnya seperi anak-anak. Juga kelakuannya”. Begitulah yang digambarkan
pengarang. Usia Enek tiga kali dari usia Si Aku dalam cerpen ini. Walaupun
usianya tiga kali usia Si Aku, ia tetap bermain bersama Si Aku dan teman-teman
Si Aku. Bahkan ia juga bergabung dalam kelompok teater yang didirikan Si Aku
dan teman-temannya. Karena tinggi dan besar tubuhnyalah, ia hanya berperan
sebagai raksasa atau perampok yang dungu. Dan gampang dikalahkan.
Tidak hanya tokoh Enek yang ditampilkan dalam cerpen ini,
tetapi Si Aku dan teman-temannya juga. Si Aku senang memiliki teman seperti
Enek, karena Enek selalu membantunya. Menurutnya Enek adalah dewa penolong yang
selalu membantunya. Ketika Si Aku sudah memasuki SMP, ia sering bercerita
tentang aktivitasnya, seperti bermain drama di TVRI atau bermain ketoprak
bersama pelawak-pelawak idolanya. Selama Si Aku bercerita, Enek tidak
berkomentar sedikitpun tentang aktivitas temannya itu. Ia tetap mendengarkan
dengan setia, sampai akhirnya Si Aku kesal dengannya. Ia dan teman-temannya pun
berniat mengerjainya. Enek dikerjai oleh teman-temannya mulai dari adanya surat panggilan palsu
dari TVRI yang di buat Si Aku sampai membujuk Enek untuk masuk dalam akademi
seni yang cukup nyentrik. Dan inilah onflik yang dibangun pengarang dalam
cerpen ini. Konflik yang didalamnya terdapat unsur humor yang membuat cerpen
ini menjadi lebih hidup.
Jika dilihat dari segi psikologis, mungkin tokoh Enek
menyukai anak-anak kecil. Oleh karena itu ia selalu bermain dengan anak kecil.
Bahkan pada saat Si Aku sudah besar dan meninggalkannya atau lebih tepatnya
tidak bermain lagi bersamanya. Enek tetap bermain dengan anak-anak kecil yang
baru tumbuh dan salah satu anak kecil tersebut terdapat adik Si Aku. Atau juga
terdapat kemungkinan bahwa Enek labih nyaman bermain dengan anak-anak kecil
daripada dengan anak-anak seusianya. Enek bukanlah orang yang dungu dan mau
disuruh-suruh oleh teman-teman yang usianya di bawah ia. Ia adalah orang yang
baik dan setia pada teman-temannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar