Sabtu, 13 April 2013

Merekatnya Kemiskinan Suatu Desa dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari seorang sastrawan yang memiliki aliran realis. Karyanya diperlihatkan dengan menceritakan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Kepeduliannya dengan budaya dan mayarakat kecil menyeimuti karya-karyanya. Penulis yang lahir pada tanggal 13 Juni 1948 ini telah lama tinggal di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kebudayaan yang kental. Olehb karena itu,  ia sangat mahir dalam menggambarkan situasi dan latar pedesaan dalam karya-karyanya.  Ia salah satu sastrawan yang peduli akan hak asasi manusia dan makna kehidupan. Salah satu novel yang menceritakan tentang budaya dalam ranah pedeesaan yang terpencil adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini pula yang melambungkan namanya dalam kancah kesasteraan.
   Ronggeng Dukuh Paruk merupakan buku pertama dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku keduanya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan buku ketiganya adaah Jantera Bianglala. Lewat novelnya ini ia membicarakan tentang hak asasi manusia, keadilan, kebenaran, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Selain itu, Tohari juga berhasil menggambarkan latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh dalam novel ini. ia membuat pembaca ikut masuk dalam suasana pedesaan tersebut. Seperti yang ditulis Sapardi Djoko Damono dalam Tempo (19 Februari 1983), bahwa dipandang dengan Kubah, novelnya yang terdahulu, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bisa sangat lancar mendongeng. Seperti juga dalam Kubah, latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri dari orang-orang desa yang sederhana digambarkannya dengan menarik, bahkan tidak jarang, sangat menarik.
   Ronggeng Dukuh Paruk dimainkan oleh tokoh-tokoh yang sangat menonjol yaitu Srintil, wanita yang dilahirkan untuk menjadi ronggeng, dan Rasus, lelaki pujaan Srintil yang selalu mengimplementasikan sosok ibunya lewat wajah Srintil. Sosok Srintil dalam novel ini terlihat mengalami ketidakadilan jender. Srintil dalam paparan tersebut, seakan mempresentasikan seorang perempuan yang tertindas, objek kekerasan seksual, powerless sekaligus dianggap sebagai sosok yang dipinggirkan, dimarjinalisasi, dilecehkan, bahkan dengan atribut-atribut lain yang terkesan mengenaskan. (Estetika; 2008:128)
Berbeda dengan Rasus, laki-laki yang selalu mencari sosok ibunya lewat Srintil. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti Srintil. Sewaktu Srintil menyerahkan tubuhnya pada Rasus pun, Rasus menolaknya. Ia tidak ingin menyakiti ibunya. Karena yang tergambar dalam bayangan Rasus pada saat itu adalah ibunya sendiri.
        
Selain melukiskan kebudayaan, Tohari juga melukiskan kehidupan masyarakat yang masih berada dalam kepercayaan mistis, kemiskinan dalam berpikir, dan minimnya tatanan moral. Sebenarnya, ia ingin menunjukkan pula walaupun ia orang Jawa, bukan berarti ia setuju  sepenuhnya dengan budaya Jawa terseebut. Kemiskinan yang terdapat dalam novel ini mengandung dua pengertian, yaitu pertama kemiskinan yang memang tidak memiliki apa-apa dan kedua kemiskinan dalam hal berpikir. Desa Dukuh Paruk digambarkan dengan suatu desa terpencil, desa yang penghuninya tidak memiliki kekayaan apa-apa dikarenakan penghuninya yang malas sehingga kemiskinan dalam hal berpikir terus bersemayam dalam desa tersebut.(NuraZie)

Merekatnya Kemiskinan Suatu Desa dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari seorang sastrawan yang memiliki aliran realis. Karyanya diperlihatkan dengan menceritakan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Kepeduliannya dengan budaya dan mayarakat kecil menyeimuti karya-karyanya. Penulis yang lahir pada tanggal 13 Juni 1948 ini telah lama tinggal di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kebudayaan yang kental. Olehb karena itu,  ia sangat mahir dalam menggambarkan situasi dan latar pedesaan dalam karya-karyanya.  Ia salah satu sastrawan yang peduli akan hak asasi manusia dan makna kehidupan. Salah satu novel yang menceritakan tentang budaya dalam ranah pedeesaan yang terpencil adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini pula yang melambungkan namanya dalam kancah kesasteraan.
   Ronggeng Dukuh Paruk merupakan buku pertama dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku keduanya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan buku ketiganya adaah Jantera Bianglala. Lewat novelnya ini ia membicarakan tentang hak asasi manusia, keadilan, kebenaran, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Selain itu, Tohari juga berhasil menggambarkan latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh dalam novel ini. ia membuat pembaca ikut masuk dalam suasana pedesaan tersebut. Seperti yang ditulis Sapardi Djoko Damono dalam Tempo (19 Februari 1983), bahwa dipandang dengan Kubah, novelnya yang terdahulu, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bisa sangat lancar mendongeng. Seperti juga dalam Kubah, latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri dari orang-orang desa yang sederhana digambarkannya dengan menarik, bahkan tidak jarang, sangat menarik.
   Ronggeng Dukuh Paruk dimainkan oleh tokoh-tokoh yang sangat menonjol yaitu Srintil, wanita yang dilahirkan untuk menjadi ronggeng, dan Rasus, lelaki pujaan Srintil yang selalu mengimplementasikan sosok ibunya lewat wajah Srintil. Sosok Srintil dalam novel ini terlihat mengalami ketidakadilan jender. Srintil dalam paparan tersebut, seakan mempresentasikan seorang perempuan yang tertindas, objek kekerasan seksual, powerless sekaligus dianggap sebagai sosok yang dipinggirkan, dimarjinalisasi, dilecehkan, bahkan dengan atribut-atribut lain yang terkesan mengenaskan. (Estetika; 2008:128)
Berbeda dengan Rasus, laki-laki yang selalu mencari sosok ibunya lewat Srintil. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti Srintil. Sewaktu Srintil menyerahkan tubuhnya pada Rasus pun, Rasus menolaknya. Ia tidak ingin menyakiti ibunya. Karena yang tergambar dalam bayangan Rasus pada saat itu adalah ibunya sendiri.
        
Selain melukiskan kebudayaan, Tohari juga melukiskan kehidupan masyarakat yang masih berada dalam kepercayaan mistis, kemiskinan dalam berpikir, dan minimnya tatanan moral. Sebenarnya, ia ingin menunjukkan pula walaupun ia orang Jawa, bukan berarti ia setuju  sepenuhnya dengan budaya Jawa terseebut. Kemiskinan yang terdapat dalam novel ini mengandung dua pengertian, yaitu pertama kemiskinan yang memang tidak memiliki apa-apa dan kedua kemiskinan dalam hal berpikir. Desa Dukuh Paruk digambarkan dengan suatu desa terpencil, desa yang penghuninya tidak memiliki kekayaan apa-apa dikarenakan penghuninya yang malas sehingga kemiskinan dalam hal berpikir terus bersemayam dalam desa tersebut.(NuraZie)

Merekatnya Kemiskinan Suatu Desa dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari seorang sastrawan yang memiliki aliran realis. Karyanya diperlihatkan dengan menceritakan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Kepeduliannya dengan budaya dan mayarakat kecil menyeimuti karya-karyanya. Penulis yang lahir pada tanggal 13 Juni 1948 ini telah lama tinggal di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kebudayaan yang kental. Olehb karena itu,  ia sangat mahir dalam menggambarkan situasi dan latar pedesaan dalam karya-karyanya.  Ia salah satu sastrawan yang peduli akan hak asasi manusia dan makna kehidupan. Salah satu novel yang menceritakan tentang budaya dalam ranah pedeesaan yang terpencil adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini pula yang melambungkan namanya dalam kancah kesasteraan.
   Ronggeng Dukuh Paruk merupakan buku pertama dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku keduanya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan buku ketiganya adaah Jantera Bianglala. Lewat novelnya ini ia membicarakan tentang hak asasi manusia, keadilan, kebenaran, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Selain itu, Tohari juga berhasil menggambarkan latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh dalam novel ini. ia membuat pembaca ikut masuk dalam suasana pedesaan tersebut. Seperti yang ditulis Sapardi Djoko Damono dalam Tempo (19 Februari 1983), bahwa dipandang dengan Kubah, novelnya yang terdahulu, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bisa sangat lancar mendongeng. Seperti juga dalam Kubah, latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri dari orang-orang desa yang sederhana digambarkannya dengan menarik, bahkan tidak jarang, sangat menarik.
   Ronggeng Dukuh Paruk dimainkan oleh tokoh-tokoh yang sangat menonjol yaitu Srintil, wanita yang dilahirkan untuk menjadi ronggeng, dan Rasus, lelaki pujaan Srintil yang selalu mengimplementasikan sosok ibunya lewat wajah Srintil. Sosok Srintil dalam novel ini terlihat mengalami ketidakadilan jender. Srintil dalam paparan tersebut, seakan mempresentasikan seorang perempuan yang tertindas, objek kekerasan seksual, powerless sekaligus dianggap sebagai sosok yang dipinggirkan, dimarjinalisasi, dilecehkan, bahkan dengan atribut-atribut lain yang terkesan mengenaskan. (Estetika; 2008:128)
Berbeda dengan Rasus, laki-laki yang selalu mencari sosok ibunya lewat Srintil. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti Srintil. Sewaktu Srintil menyerahkan tubuhnya pada Rasus pun, Rasus menolaknya. Ia tidak ingin menyakiti ibunya. Karena yang tergambar dalam bayangan Rasus pada saat itu adalah ibunya sendiri.
        
Selain melukiskan kebudayaan, Tohari juga melukiskan kehidupan masyarakat yang masih berada dalam kepercayaan mistis, kemiskinan dalam berpikir, dan minimnya tatanan moral. Sebenarnya, ia ingin menunjukkan pula walaupun ia orang Jawa, bukan berarti ia setuju  sepenuhnya dengan budaya Jawa terseebut. Kemiskinan yang terdapat dalam novel ini mengandung dua pengertian, yaitu pertama kemiskinan yang memang tidak memiliki apa-apa dan kedua kemiskinan dalam hal berpikir. Desa Dukuh Paruk digambarkan dengan suatu desa terpencil, desa yang penghuninya tidak memiliki kekayaan apa-apa dikarenakan penghuninya yang malas sehingga kemiskinan dalam hal berpikir terus bersemayam dalam desa tersebut.(NuraZie)