Ahmad Tohari seorang sastrawan yang memiliki
aliran realis. Karyanya diperlihatkan dengan menceritakan fenomena-fenomena
yang terjadi dalam kehidupan. Kepeduliannya dengan budaya dan mayarakat kecil
menyeimuti karya-karyanya. Penulis yang lahir pada tanggal 13 Juni 1948 ini
telah lama tinggal di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kebudayaan yang
kental. Olehb karena itu, ia sangat
mahir dalam menggambarkan situasi dan latar pedesaan dalam karya-karyanya. Ia salah satu sastrawan yang peduli akan hak
asasi manusia dan makna kehidupan. Salah satu novel yang menceritakan tentang
budaya dalam ranah pedeesaan yang terpencil adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Novel
ini pula yang melambungkan namanya dalam kancah kesasteraan.
Ronggeng Dukuh Paruk merupakan buku pertama dari trilogi Ronggeng Dukuh
Paruk. Buku keduanya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan buku ketiganya adaah
Jantera Bianglala. Lewat novelnya ini ia membicarakan tentang hak asasi
manusia, keadilan, kebenaran, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Selain itu,
Tohari juga berhasil menggambarkan latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh dalam
novel ini. ia membuat pembaca ikut masuk dalam suasana pedesaan tersebut.
Seperti yang ditulis Sapardi Djoko Damono dalam Tempo (19 Februari 1983), bahwa dipandang dengan Kubah, novelnya
yang terdahulu, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bisa sangat
lancar mendongeng. Seperti juga dalam Kubah, latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh
yang terdiri dari orang-orang desa yang sederhana digambarkannya dengan
menarik, bahkan tidak jarang, sangat menarik.
Ronggeng Dukuh Paruk dimainkan oleh
tokoh-tokoh yang sangat menonjol yaitu Srintil, wanita yang dilahirkan untuk
menjadi ronggeng, dan Rasus, lelaki pujaan Srintil yang selalu
mengimplementasikan sosok ibunya lewat wajah Srintil. Sosok Srintil dalam novel
ini terlihat mengalami ketidakadilan jender. Srintil dalam paparan tersebut,
seakan mempresentasikan seorang perempuan yang tertindas, objek kekerasan
seksual, powerless sekaligus dianggap sebagai sosok yang dipinggirkan,
dimarjinalisasi, dilecehkan, bahkan dengan atribut-atribut lain yang terkesan
mengenaskan. (Estetika; 2008:128)
Berbeda dengan Rasus, laki-laki yang selalu
mencari sosok ibunya lewat Srintil. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti
Srintil. Sewaktu Srintil menyerahkan tubuhnya pada Rasus pun, Rasus menolaknya.
Ia tidak ingin menyakiti ibunya. Karena yang tergambar dalam bayangan Rasus
pada saat itu adalah ibunya sendiri.
Selain
melukiskan kebudayaan, Tohari juga melukiskan kehidupan masyarakat yang masih
berada dalam kepercayaan mistis, kemiskinan dalam berpikir, dan minimnya
tatanan moral. Sebenarnya, ia ingin menunjukkan pula walaupun ia orang Jawa,
bukan berarti ia setuju sepenuhnya
dengan budaya Jawa terseebut. Kemiskinan yang terdapat dalam novel ini
mengandung dua pengertian, yaitu pertama kemiskinan yang memang tidak memiliki
apa-apa dan kedua kemiskinan dalam hal berpikir. Desa Dukuh Paruk digambarkan
dengan suatu desa terpencil, desa yang penghuninya tidak memiliki kekayaan
apa-apa dikarenakan penghuninya yang malas sehingga kemiskinan dalam hal
berpikir terus bersemayam dalam desa tersebut.(NuraZie)