Judul : U-TURN
Penulis : Nadya Prayudhi
Penerbit
: PlotPoint Publishing
Rilis
: 2013 (Cet. ke-1)
Tebal
: vi + 233 hlm.
Harga : Rp 39.000,-
Karin tidak mengerti mengapa dirinya diputusi oleh
Bre. Laki-laki yang ia pikir akan menjadi pelabuhan terakhirnya, lantas malah
pergi meninggalkan dirinya. Berkali-kali ia mencari kebahagiaan dari
orang-orang yang dicintainya, namun semuanya tidak pernah berujung manis. Semua
ini membuat dirinya merenung dan selalu saja menganggap kalau dirinya memang
tidak pantas untuk bahagia apalagi dicintai orang lain, bahkan ia pun takut
mencintai dirinya sendiri.
Bertahun-tahun Karin menyimpan rahasia kelam tentang
hidupnya. Rahasia yang membuat dirinya meninggalkan Indonesia dan memulai
kehidupan baru. Namun, rahasia itu selalu saja mengikutinya ke mana pun ia
pergi. Menghantuinya dan membuat hidupnya jungkir balik. Ingin rasanya ia
kembali pada waktu ia melakukan hal bodoh itu dan menggantinya dengan kejadian
yang lebih baik. Namun, apa daya semuanya sudah sia-sia.
Penokohan yang disuguhkan oleh Nadya memiliki
karakter-karakter yang kuat. Karin, wanita yang sebelumnya memiliki sifat periang
dengan hari-harinya yang indah, tiba-tiba menjadi
gadis pengecut yang ketakutan. Bre, pria tampan yang matanya memancarkan aura
bijak, menerima Karin apa adanya, dan mengerti apa yang Karin rasakan. Marisa,
wanita yang berobsesi menghancurkan hidup Karin.
Konflik bertubi-tubi dihadirkan oleh Nadya pada
tokoh-tokohnya. Terlebih lagi kepada tokoh utamanya, Karin. Entah mengapa saya
berpikir, masalah senang sekali bertengger dalam hidup Karin. Sejak kematian
sepupunya, Abi, hidupnya berubah 180 derajat. Hidupnya menjadi lebih rumit.
Nadya menyajikan cerita ini dengan alur maju-mundur. Pembaca diajak untuk menelusuri
cerita masa lalu Karin─yang menyebabkan hidupnya bermasalah. Satu per satu
masalah terungkap mulai dari hubungan Bre dengan Marisa atau hubungan Marisa
dengan Zara. Dengan sudut pandang orang ketiga, cerita ini mampu membuat saya
penasaran untuk membacanya lagi. Sang narator mengungkapkannya dengan rapi,
selalu ada klue dari setiap masalah yang terkait. Misalnya seperti ini.
Dia memang sudah gila, Bre. Aku yang
membuatnya begitu. (hlm. 170)
Kata-kata tersebut merupakan isi hati Marisa. Sempat
saya berpikir, lho mengapa Marisa
berkata demikian? Pertanyaan saya pun terjawab pada bagian 31, bagian ini pun
menjadi bagian favorit saya, seru sekali ketika Karin, Bre, dan Marisa
dipertemukan.
Betapa Tuhan
punya selera humor yang tinggi mempertemukan mereka dalam satu lingkaran
begini. (hlm. 212)
Membaca
novel ini bukan hanya dimanjakan oleh plot ceritanya saja, namun dari segi
penyuntingan pun secara keseluruhan baik. Saya hampir
tidak menemukan typo di setiap
halaman-halamannya. Hanya saja terdapat penggalan-penggalan yang tidak pas,
seperti pada halaman 18 di sana tertulis meny-embuhkan,
seharusnya me-nyembuhkan. Untuk
ukuran font menurut saya sama sekali tidak masalah, karena dengan ukuran font
seperti ini masih nyaman untuk dibaca oleh pembaca. Dan yang paling membuat
novel ini terlihat eye catching adalah
cover-nya yang menggambarkan seorang
wanita yang melihat dirinya tenggelam akan kisah hidupnya yang lalu.
Adakalanya
kita harus berbalik, menghadapi masa lalu dan menyelesaikan masalah yang sempat
kita tinggalkan.
Akhirnya,
saya memberikan nilai 5 dari 5 bintang untuk novel ini. Dan buat kamu yang
belum baca, ayo buruan baca!!! Recommended banget deh, dijamin nggak nyesel. :)